Rincian Modal Usaha Rumah Makan hingga Buka dan Persiapannya

16 Januari 2017

Usaha rumah makan atau restoran merupakan jenis bisnis yang sudah tak asing lagi di masyarakat Indonesia. Bisnis ini sangat menjanjikan sejak jaman dulu hingga sekarang. Dengan alasan, setiap manusia membutuhkan makan dan minum setiap hari sebagai kebutuhan dasar alami manusia. Oleh karenanya, bisnis rumah makan akan selalu menguntungkan. Ada beberapa macam konsep usaha rumah makan. Seperti rumah makan sederhana, lesehan, lalapan dan prasmanan. Namun untuk membuka bisnis rumah makan tidak mudah. Dibutuhkan beberapa persiapan dalam memulai usaha rumah makan agar bisnis ini berjalan lancar dan menguntungkan terutama dari segi modal usaha.

Rincian Modal Awal Usaha Rumah Makan hingga Buka
Berikut ini rincian modal awal usaha rumah makan hingga siap buka dan beroperasi, antara lain:
1.Etalase dan meja panjang untuk tempat makan konsumen harga Rp 1 juta
2.Perlengkapan memasak seperti wadah lauk pauk dan sayur harga Rp 200 ribu
3.Peralatan masak di dapur harga Rp 800 ribu
4.Bahan baku sekitar Rp 8 juta
5.Biaya transportasi harga Rp 500 ribu
6. Biaya keamanan, retribusi dan biaya kebersihan harga Rp 500 ribu perbulan
7.Biaya tabung gas harga Rp 200 ribu
8.Perlengkapan usaha seperti plastik bungkus dan kertas bungkus harga Rp 400 ribu
9. Biaya lain-lain harga Rp 400 ribu

Jadi modal usaha yang diperlukan dalam membuka usaha rumah makan secara sederhana sekitar Rp 12 juta. Estimasi keuntungan bersih bisnis rumah makan bisa mencapai puluhan juta rupiah per bulan.
usaha rumah makan, bisnis rumah makan, rumah makan, modal rumah makan, modal bisnis rumah makan

Persiapan Membuka Rumah Makan
Penulis mempunyai sebuah lahan kosong di pinggir jalan raya yang strategis dengan pemandangan alam hamparan sawah di desa. Kalau dijadikan usaha warung atau rumah makan konsep sederhana, lesehan dan prasmanan akan sangat tepat. Dan bisa laris manis. Seperti yang penulis saksikan di daerah Karawang dan Purwakarta. Yang penting kunci kesuksesan usaha rumah makan adalah persiapan usaha yang matang.

Berikut ini persiapan dalam membuka rumah makan yang harus diperhatikan supaya usaha dalam bidang kuliner ini berjalan mulus dan menjanjikan, antara lain:

Menu Makanan dan Minuman
Hal pertama yang harus dipersiapkan adalah memilih menu makanan dan minuman yang akan dihidangkan dalam rumah makan. Pilihlah menu makanan dan minuman yang digemari oleh para konsumen. Misalnya aneka gorengan, olahan dari ayam seperti ayam bakar atau opor ayam, olahan dari tempe dan tahu, makanan dari olahan telur dan kuliner lain sebagainya yang disukai banyak orang. Silahkan anda cari sendiri untuk menambahkannya supaya rumah makan anda laris manis diserbu para pembeli.

Lokasi Strategis
Setiap bisnis apapun memerlukan lokasi yang strategis termasuk usaha rumah makan. Salah satu ciri tempat yang cocok dijadikan rumah makan adalah persimpangan jalan atau tempat itu ramai dilalui banyak orang baik pejalan kaki atau pengguna kendaraan bermotor. Untuk mendapatkan tempat seperti itu biasanya harus menyewa tempat dengan biaya sewa yang lumayan mahal. Oleh karena itu, untuk menekan pengeluaran usaha rumah makan bagi pemula salah satu caranya adalah membuka rumah makan di depan atau halaman rumah. Mungkin ada ruangan kosong di depan rumah sobat yang dapat dijadikan rumah makan lesehan atau prasmanan.

Kebersihan
Salah satu hal yang sangat penting untuk menunjang keberhasilan usaha rumah makan adalah masalah kebersihan. Setiap orang yang hendak menjadi konsumen restoran dan rumah makan, ia akan bertanya kepada diri sendiri apakah rumah makan ini bersih, higienis, apik, halal dan sehat. Oleh sebab itu, pastikan anda mengolah makanan dari awal produksi secara bersih dan higienis. Pilihlah bahan baku sayuran dan bahan lauk pauk yang masih segar dengan cara higienis, bersih dan halal berdasarkan syariah Islam.

Pernah ada kejadian atau pengalaman buruk seorang pengusaha rumah makan yang sukses di bidang kuliner dan laku keras di daerah Sumedang. Suatu hari secara tak sengaja ia mencuci piring di sebuah selokan dekat rumah makan miliknya. Saat itu masyarakat yang melihatnya merasa jijik mengetahui cara membersihkan piring yang tak higienis. Tersebarlah keburukan itu. Sejak itulah usaha rumah makannya menjadi sepi pengunjung hingga bangkrut.  

Pastikan pula menu makanan dan minuman yang disajikan dalam rumah makan dalam keadaan segar dan tidak basi. Penulis pernah makan di sebuah rumah makan di daerah Subang dan Sumedang. Nasi dan lauk pauk yang dihidangkan adalah nasi dan menu pendamping kemarin yang diolah lagi. Setelah penulis menyantapnya, perut terasa mual hingga penulis muntah beberapa kali. Hal ini membuat penulis kapok mengunjungi rumah makan tersebut. Jadi pastikan menu makanan, nasi dan minuman dalam keadaan sangat segar dan tidak basi.

Penulis juga pernah mengunjungi sebuah usaha rumah makan yang di luar banyak sangkar burung. Jelas ini juga akan menimbulkan keraguan dalam konsumen. Jangan-jangan makanan dan kuliner yang disajikan dalam keadaan tak bersih karena bisa saja kotoran dan bulu-bulu dari burung di depan rumah makan tersebut beterbangan dan menempel ke kuliner yang dijualnya. Hal ini bisa mengakibatkan bisnis rumah makan menjadi sepi pembeli yang penulis saksikan belakangan ini. Jadi pastikan rumah makan sobat terjauh dari hal yang meragukan terhadap kebersihan. Tak ada kotoran sedikitpun.

Peralatan dan Perlengkapan
Modal yang perlu disiapkan rumah makan adalah bahan baku, peralatan dan perlengkapan seperti sendok, priring, gelas, garpu, wadah, mangkok, dll.

Kisah Sukses Pengusaha Kuliner dari Nol
Salah seorang pelaku usaha yang sukses dalam bidang bisnis rumah makan adalah pria bernama lengkap Haji Bustaman. Pria yang ramah dan murah senyum ini berhasil mengembangkan usaha franchise rumah makan padang Sederhana hingga mempunyai cabang di beberapa kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Tangerang, Bekasi, Depok, Semarang, hingga ke mancanegara seperti Malaysia.

Pada awalnya pria yang akrab disapa Bustaman ini sejak remaja sudah belajar hidup mandiri. Pada tahun 1955 ia merantau ke daerah Jambi dari kampung asalnya Sumatrera Barat hanya untuk meningkatkan keadaan ekonomi sendiri. Karena jebolan sekolah rakyat kelas dua maka ia melakukan berbagai jenis pekerjaan kelas rendahan. Seperti jualan koran, buruh perkebunan karet, pedagang asongan, buruh cuci piring di restoran dan lain sebagainya.

Pada tahun 1970, Bustaman  memilih pulang ke kampung halaman dan menikah dengan seorang gadis pujaan bernama Fatimah. Setelah usia pernikahan berlangsung selama 2 tahun dan mempunyai satu orang anak, pria pekerja keras ini memutuskan hendak merantau ke Jakarta. Sesampai di ibukota, Bustaman memilih profesi sebagai pedagang rokok memakai gerobak ala kaki lima.

Tahun 1975 di Matraman terjadi pertikaian sengit antara preman Jakarta dengan suku Minang. Hal tersebut membuat Bustaman sebagai etnis Minang memilih mengungsi ke daerah Pejompongan Jakarta untuk menyelamatkan jiwa. Di daerah Pejompongan ia memilih membuka usaha berjualan rokok secara kaki lima serupa dengan sebelumnya. Dalam sehari ia memperoleh keuntungan sekitar Rp 2000. Hal ini sangat berbeda jauh dengan penghasilan bisnis jualan rokok di Matraman yang bisa mencapai Rp 8000 perhari.

Karena penghasilan yang didapatkan sangat minim membuat pria yang cerdas ini berniat membuka suatu usaha dalam bidang kuliner untuk menambah penghasilan yakni buka usaha rumah makan. Setelah mendapatkan lokasi usaha strategis yang berada di pinggir jalan yang ramai dan cocok dijadikan tempat usaha kuliner, Bustaman pun menyewa lokasi berukuran 1 meter x 1 meter  tersebut.

Bustaman benar-benar memulai usaha rumah makan dari nol. Ia sama sekali tidak memiliki ketrampilan memasak. Ia pun tidak mempunyai uang dalam jumlah besar untuk membeli minyak goreng, lauk pauk, beras dan bahan baku lainnya. Oleh sebab itu, dengan pikiran yang cerdas ia memutuskan untuk belajar cara memasak berbagai menu makanan secara autodidak ditambah ia sudah mempunyai pengalaman bekerja di sebuah restoran. Modal usaha bahan baku makanan dan minuman didapatkan dari pinjaman tetangga.

Berjalan waktu, rumah makannya berjalan sukses dan menguntungkan. Dari modal usaha awal sekitar Rp 13 ribu menjadi Rp 500 ribu. Keuntungan yang terus berlipat. Di masa kejayaan itu, sebuah peristiwa tak terduga terjadi. Dimana uang keuntungan usaha rumah makan dibawa kabur oleh salah seorang karyawannya.  Hal itu sempat membuatnya trauma dan stres. Tapi tak berlangsung lama ia bangkit kembali dengan membuka rumah makan serupa dengan sisa uang yang ada.

Suatu hari Bustaman mencicipi makanan di sebuah restoran. Ternyata menu yang dihidangkan sangat sedap dan enak. Ia pun berkenalan dengan sang koki dan minta resep makanan tersebut. Berbekal resep makanan yang ia dapatkan dari sang koki, Bustaman melengkapi usaha warung makannya dengan menu makanan dari pemasak handal itu. Tak anyal, rumah makan Bustaman laris manis dipadati para pelanggan.  Hingga ia membuka cabang di daerah Roxymas Jakarta.

Kemudian untuk memperluas pasar, ia menawarkan kemitraan usaha rumah makan padang Sederhana miliknya dengan sistem usaha waralaba. Bisnis restoran padang dibuka di berbagai daerah sampai ke luarnegeri. Sesuatu hal yang sangat membanggakan dari pria bernama Bustaman yang telah berangkat ibadah haji dari keuntungan usaha warung makan Sederhana. Itulah kisah sukses pengusaha muda kuliner yang sangat diperhitungkan di dalam negeri ini.

Sebenarnya masih banyak profil pengusaha sukses kuliner rumah makan lainnya seperti Rangga Umara yang buka warung makan Lele Lela, Riky Try Yuniawan dengan saung restoran Cibiuk,  Bapak Sutarjo, dan Haji Edy Hardi dengan restoran khas sunda Sawargi.